MENUNGGU PERAN ALUMNI (YANG MASIH TERSERAK)

MENUNGGU PERAN ALUMNI (YANG MASIH TERSERAK)

Oleh: Arif Sujoko*)

            Data sampai dengan 15 September 2008, alumni APS telah mencapai 626 orang yang diluluskan dalam 8 angkatan. Angka – angka tersebut memang bernilai relatif. Bagi sebagian kalangan, jumlah 600 – an dan rentang waktu satu windu mungkin dianggap masih ‘prematur’ kalau alumni harus menunjukkan perannya apabila dibandingkan dengan alumni perguruan tinggi lain yang jauh lebih banyak dan lebih tua. Tetapi, bagi sebagian alumni, kondisi ini sudah memungkinkan untuk turut berkarya dalam berbagai ruang masyarakat, tentunya setelah alumni tersebut memahami bahwa hidupnya lebih berarti jika bermanfaat bagi sesama, kesuksesan karirnya lebih mulia jika ditularkan ke alumni lainnya, dan bisnisnya lebih berkembang, bukan sendiri, tetapi berkembang bersama.

          Semua itu bukan berarti bahwa alumni APS adalah manusia yang harus terkekang dalam lingkungan sosial barunya dan harus berderma kepada sesama alumni saja. Sama sekali tidak demikian karena aktualisasi diri dalam berbagai lingkungan sosial merupakan kebutuhan setiap manusia, saya juga tidak dogmatis dalam memahami bahwa kebutuhan alumni (mungkin saat ini masih bersifat abstrak) harus didahulukan daripada kebutuhan pribadi, karena dalam realita dan tataran praktis pada umumnya manusia akan mengupayakan kesuksesan dan kesejahteraan ‘pribadi’ sebelum berfikir untuk memberi kemanfaatan kepada yang lainnya. Yang saya maksudkan dari semua itu adalah bahwa cukup banyak alumni APS yang sudah ‘berprestasi’ dalam berbagai bidang sesuai dengan spesialisasinya secara pribadi, tetapi, belum banyak yang berfikir untuk berbagi ‘sukses’ ini melalui kebersamaan dalam suatu organisasi.

          Salah satu problem yang menyebabkan belum efektifnya upaya menghimpun diri dalam organisasi ini adalah munculnya sekat – sekat dalam psikososial alumni. Sekat itu sendiri apabila disikapi dengan arif sebenarnya bukan sekat permanen dan bukan penghalang untuk bersatu dalam organisasi. Semuanya kembali ke psikologis alumni masing – masing, tetapi jika gejala ini merupakan gejala umum tentu permasalahan tidak sesederhana yang dibayangkan karena sangat potensial hal itu akibat kebijakan struktural kelembagaan.

          Kembali ke sekat tadi, setidaknya ada 3 sekat yang mampu saya potret. Pertama, Romantisme angkatan dan konflik antar angkatan. Dua hal ini sengaja saya pasangkan karena kecintaan, kekompakan, dan kebersamaan suatu angkatan yang disikapi secara belebihan seringkali menganggap bahwa alumni hanyalah angkatannya sendiri, akibat lebih lanjut adalah kekurangdewasaan dalam menyikapi konflik kecil antar angkatan (biasanya dengan angkatan di atasnya) menjadi konflik yang tak termaafkan. Dan yang tampak bahwa hal ini adalah problematika warisan sejak bangku kuliah.

          Apa yang saya sampaikan bukan untuk kritik negatif kepada siapapun, tetapi semuanya lebih untuk memahami realita dan mencari alternatif perbaikan bersama. Dalam kaitan ini, karena ada gejala senantiasa berulang setiap tahun mungkin perlu upaya untuk mengkaji kembali ekses – ekses negatif yang ditimbulkan oleh sebagian system pendidikan di APS, sekali lagi untuk mengurangi berlebihannya sikap taruna dan alumni dalam menyikapi ‘romantisme angkatan dan konflik antar angkatan’ karena pembentukan sikap merupakan salah satu dari tujuan system pendidikan.

          Sekat kedua adalah sikap sebagian alumni yang berlebihan dalam memandang perbedaan profesi. Akibatnya, alumni tekotak – kotak dalam profesi PNS, pegawai swasta, dan wirausaha. Memang dalam lingkup pekerjaan alumni > 75 % terbagi dalam tiga profesi tersebut, rinciannya 49,10 % PNS, 22,44 % pegawai swasta, dan 6,41 % berwirausaha. Sesama PNS pun ada sebagian yang memunculkan sikap antara PNS pusat dan daerah. Hal ini tentu semakin melemahkan alumni itu sendiri  dan sebagai ‘terapinya’ yang paling diperlukan adalah kesadaran diri dan sikap sangat – sangat bijaksana bahwa keragaman profesi merupakan kekuatan tersendiri yang menghasilkan sinergi untuk seluruh alumni jika digabungkan dalam satu organisasi. Jadi bukan perbedaannya yang ditonjolkan, tetapi persatuan untuk kemanfaatan bersama yang diperlihatkan.

          Sekat ketiga yang sering tidak disadari adalah sikap inferior memandang diri sendiri baik terkait dengan kondisi finansial maupun kapasitas intelektual. Dalam hal finansial, sebagian alumni berpendapat bahwa organisasi hanya mampu bergerak apabila dukungan finansial begitu kuatnya. Saya pribadi berfikir tidak harus demikian, karena ada banyak celah untuk menggerakkan organisasi yang sesuai kapasitas sumberdaya kita. Artinya, kalau modal masih terbatas maka seyogyanya kita tidak bergerak dalam organisasi yang padat modal. Lantas organisasi apa? Jawabanya mungkin tidak jauh beda dengan arahan Dr. Dedy H. Sutisna pada Temu Alumni Oktober 2008 yang menginginkan sinergi alumni dengan APS untuk turut memecahkan persoalan kelautan dan perikanan istilahnya Organisasi Alumni memposisikan diri sebagai lembaga think tank.

          Tetapi hal ini juga bukan tanpa kendala, karena seperti paragraph sebelumnya rasa inferioritas ini juga muncul dalam memandang kapasitas intelektual. Saya lebih suka mengistilahkan ini sebagai D 3 trap yang menjangkiti sebagian alumni kita, dimana alumni ‘membatasi’ kapasitas intelektualnya dengan tidak mau dan tidak mengijinkan dirinya berfikir besar karena merasa bahwa ia hanyalah lulusan D 3 terlebih lagi jika lingkungan kerjanya secara struktural hanya mengakui ia sebagai D 3. Padahal solusi untuk keluar dari pemahaman ini sangat terbuka di era serba informasi seperti sekarang, artinya meskipun secara struktural alumni APS memang hanya lulus D 3, tetapi secara pribadi kapasitas intelektualnya bisa ditingkatkan sejajar dengan sarjana. Belajar ke jenjang formal lebih tinggi, mengikuti kursus – kursus singkat, dan belajar serta berlatih mandiri merupakan solusi yang perlu ditanamkan dalam pribadi setiap alumni. Model belajar sepanjang hayat ini sudah seharusnya dibangun sejak alumni belajar di APS.

          Beberapa pikiran saya di atas memang tidak dapat disebut mewakili sebagian kecil dari pendapat alumni, apalagi sebagian besarnya. Tetapi, semua yang terungkap adalah kristalisasi dari setiap diskusi, pendapat – pendapat, dan renungan untuk menggugah setiap alumni yang secara relatif sudah mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan hidupnya agar bersegera meningkatkan kemanfaatan pencapaian prestasinya kepada sesama alumni, atau lebih luas lagi bagi APS, masyarakat kelautan dan perikanan, serta masyarakat umumnya melalui suatu organisasi bersama.

          Bagaimana pendapat Anda?

 

*) Alumni APS Tahun 2003

    Tinggal di Bogor

~ oleh alumniaps pada Agustus 26, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: