SEKILAS PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA

SEKILAS PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA

*) Oleh: Arif Sujoko**)

South sea pearl, kilaunya tidak akan pudar digerus jaman. Malah kian lama semakin populer, khususnya dalam rangkaian kalung dan beragam perhiasan lainnya. Di balik kemilaunya, tidak banyak orang yang mengerti bahwa proses yang sangat panjang dan waktu yang lama dibutuhkan untuk mendapatkan mutiara laut selatan dari tiram jenis pinctada maxima ini.

Mutiara Indonesia yang berhasil membanjiri pasar Jepang dan Hongkong merupakan hasil dari kegiatan budidaya. Torehan prestasi tidak terhenti sampai disitu, karena pada tahun 2005, Indonesia berhasil menjadi kampium dalam memproduksi mutiara pada level global dengan mengukuhkan diri sebagai produsen south sea pearl terbesar di dunia.

 

Perairan Indonesia memang menjadi surga bagi pengusaha mutiara, karena berdasarkan peta sebaran potensi tiram mutiara yang dikeluarkan oleh A. Dwiponggo dalam Mutiara (1976), berbagai species tiram penghasil mutiara bertebaran di seantero negeri, tersebar sepanjang perairan Indonesia dari Aceh di Barat hingga Papua di Timur. Meski perkembangan lebih lanjut, perusahaan – perusahaan budidaya tiram mutiara lebih banyak terkonsentrasi di kawasan tengah dan timur Indonesia. Sebagian besar masyarakat mengetahui “industri” budidaya mutiara hanya sebatas hasil akhir saja, yaitu mutiara itu sendiri. Padahal, jika ditelusuri lebih lanjut, mutiara hanyalah muara dari rangkaian kegiatan budidaya. Akar sekaligus hulu dari industri ini merupakan kegiatan pembenihan yang dilakukan di hatchery. Pembenihan tiram mutiara berkembang di Indonesia sejak akhir 1980 – an. Sebelumnya kebutuhan akan tiram mutiara dipenuhi dari hasil penyelaman, tetapi petaka mulai datang ketika ketersediaan tiram alam di perairan Indonesia terus merosot karena eksploitasi melebihi kemampuan alam meregenerasinya Teknologi pembenihan pada awalnya terkesan “rahasia” dan hanya dikuasai teknisi – teknisi impor yang kebanyakan dari Jepang, namun dengan banyaknya tenaga kerja Indonesia yang terlibat dalam industri budidaya mutiara dan didukung kemudahan akses informasi melalui pendidikan maupun media lainnya, menjelang tahun 2000, teknisi – teknisi Indonesia mulai ikut bersaing dan menunjukkan kemampuannya.

Hatchery tirampun tidak lagi terbatas pada perusahaan PMA (foreign straight investment) atau perusahaan – perusahaan yang berkongsi dengan pemodal dan tenaga – tenaga asing, tetapi sudah diusahakan oleh pengusaha lokal dengan skala yang tidak terlalu besar. Perkembangan yang cukup membanggakan, instansi pemerintah seperti Balai Budidaya Laut Lombok, saat ini juga sudah mampu menghasilkan spat (benih) tiram mutiara.

Keberhasilan hatchery tiram mutiara dalam menghasilkan benih berkualitas secara kontinue dan dalam kuantitas yang mencukupi menjadi masa depan sekaligus jaminan bagi sustainabilitas industri budidaya mutiara. Oleh karena itu, diperlukan strategi cerdas untuk mengelola pembenihan dengan memberikan perhatian yang intens pada empat tahapan utama pembenihan. Secara runtut tahapan – tahapan ini adalah: seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva dan spat, serta transportasi spat. Induk yang dipijahkan – induk hasil pembenihan maupun induk alam – harus berada dalam kondisi sehat. Penelusuran riwayat induk yang memiliki track record sebagai keluarga tiram penghasil mutiara berkualitas juga menjadi pertimbangan penting. Seleksi juga memberikan perhatian terhadap tingkat kematangan gonad (TKG). Pengecekan TKG hanya bisa dilakukan dengan cara membuka cangkang dan mengamati secara visual perkembangan gonadnya. Gonad yang berkembangan penuh menutupi semua organ bagian dalam kecuali bagian kaki.

 

Banyak teknik pemijahan yang berkembang dewasa ini, diantaranya dengan penambahan bahan kimia seperti amonia, expose, dan kejut suhu. Namun, teknik yang paling banyak digunakan oleh teknisi – teknisi pembenihan adalah kejut suhu. Induk – induk tiram dirangsang dengan menempatkannya pada bak perangsangan kemudian secara mendadak suhu air media diubah menjadi 33oC . Saat cangkang mulai terbuka induk dipindahkan ke bak pemijahan dengan volume air 1,5 m3.

Biasanya induk jantan akan mengeluarkan sperma terlebih dahulu, kemudian disusun keluarnya sel telur dari induk betina 30 – 50 menit setelahnya. Dengan demikian terjadilah pembuahan secara eksternal. telur yang terbuahi kemudian berkembang menjadi zygot. Selama tujuh jam setelah pembuahan, zygot akan mengalami proses embriyogenesis sebelum akhirnya berubah menjadi trochophore. Pemeliharaan larva dimulai ketika trochophore telah berubah menjadi larva bentuk D (D shape) yang ditandai dengan tumbuhnya mulut, organ pencernaan, dan dilindungi oleh sepasang cangkang yang tipis. Pada fase ini larva mulai diberi pakan alami dari jenis Isochrysis sp. Seiring dengan pertumbuhan larva menjadi umbo, plantygrade, dan spat, pakan yang diberikan lebih bervariasi. Fitoplankton dari jenis Chaetoceros sp, Pavlova sp., Nitzchia, Nannochloropsis sp., dan Tetracelmis sp. menjadi pilihan dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari.

Pemberian pakan sebagai asupan nutrisi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan larva dengan jumlah 2.000 – 20.000 sel/ larva/ hari. Selama masa pemeliharaan larva, konsentrasi oksigen terlarut dijaga berada di atas 5 ppm dengan menggunakan aerasi. Sementara itu kualitas air dikendalikan melalui pergantian air hingga 100% setiap 2 – 5 hari sekali, tergantung kondisi aktual kualitas air media maupun kesehatan larva itu sendiri.

Periode larva merupakan masa – masa planktonis, dimana larva akan melayang dalam kolom air. Tetapi pada hari ke – 20 , larva akan menghentikan sifat planktonisnya dan berubah menjadi bentic dengan kecenderungan menempel di dasar bak. Perhitungan yang cermat berkaitan dengan waktu penempelan sangat penting untuk menyiapkan substrat kolektor yang dipasang merata di kolom air media pemeliharaan. Ketepatan pemasangan substrat kolektor dapat membantu spat dengan segera menemukan tempat menempelnya sehingga penempelan spat di dasar bak dapat tereduksi. Seminggu setelah penempelan, spat – mencapai ukuran 1000 – 1500 µm – bisa dipanen untuk dipasarkan ke perusahaan – perusahaan budidaya mutiara. Seringkali wilayah pemasaran jauh dari lokasi hatchery bahkan bisa antar pulau sehingga transportasi dengan pesawat udara menjadi alternatif utama. Dalam hal ini teknik packing memegang peranan penting karena kesalahan dalam packing bisa menyebabkan kematian masal. Spat yang menempel pada kolektor di-¬packing dalam styrofoam dengan suhu selama transportasi dipertahankan 20 – 23oC.

Dengan cara ini, spat yang berada dalam styrofoam mampu bertahan hingga 18 jam. Dengan suksesnya pemasaran spat, berakhir pula proses pembenihan. Rangkaian produksi mutiara beralih ke budidaya, insersi, dan penanganan pasca insersi. Proses keseluruhan yang menghabiskan waktu 3 – 5 tahun ini seakan tidak terasa saat musim panen mutiara tiba.

*) Artikel ini pernah dimuat di Buletin Bandeng Edisi 6, Oktober 2006

**) Alumni APS 2003, tinggal di Bogor

~ oleh alumniaps pada September 4, 2009.

2 Tanggapan to “SEKILAS PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA”

  1. tolong kalo ada artikel yg meampilkan gambar larva mutuara yg telah memiliki eyespoy dan yg membahas tetang pengaruh kedalaman terhadap k2esukaan spat menempel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: