Nelayan dan Kredit Bank

Oleh: Arif Sujoko *)

Kompas 9 September 2009 memuat berita dengan judul “Alat Tangkap Nelayan Dapat Jadi Agunan”, berita tersebut menguraikan kondisi nelayan yang begitu susahnya untuk memperoleh kredit dari bank karena tidak adanya agunan, tetapi kondisi ini akan berubah karena alat tangkap sejak akhir Agustus 2009 dapat menjadi agunan begitu pula dengan sertifikat tanah nelayan yang telah diterbitkan secara gratis juga bisa menjadi agunan.

Nelayan (kecil) bagaimanapun tetap menjadi obyek utama dalam pembangunan, filosofinya sudah benar bahwa yang perlu ditolong adalah bagian masyarakat yang tidak mampu berhadapan secara langsung dengan pelaku usaha lainnya apabila dibiarkan apa adanya.

Oleh karena itu, hampir semua program pembangunan selalu tergambar kegiatan – kegiatan untuk mengentaskan nelayan kecil ini dari keterpurukannya. Termasuk demikian gencarnya upaya untuk menyediakan kredit bagi nelayan. Hampir semua orang setuju, bahwa kredit dengan variasi system bunganya adalah solusi kemajuan dan pengentasan kemiskinan, meskipun saya pribadi berpandangan sebaliknya. Tetapi, baiklah kita anggap bahwa kredit ini memang diperlukan. Pertanyaannya, apakah nelayan kecil memang membutuhkan dalam arti jika tidak ada kredit mereka tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari profesinya?.

Apakah mereka sudah paham bahwa kredit yang harus diangsur bulanan itu akan mampu mereka bayar setiap bulan padahal sifat tangkapan mereka adalah musiman bukan bulanan? Dan yang terakhir kalau ternyata mereka gagal membayar kredit apakah pihak yang membuat kebijakan telah berfikir apa akibat yang akan ditanggung oleh nelayan? Pertanyaan – pertanyaan di atas membutuhkan jawaban yang harus berangkat dari karakteristik social ekonomi masyarakat nelayan, yang sebagian besarnya (maaf) memiliki kelemahan manajerial dalam mengelola keuangan. Sudah dikenali oleh hampir semua orang bahwa nelayan kecilpun sebenarnya ‘prospektif’ dalam mendapatkan hasil tangkap dan menjualnya. Gejalanya cukup sederhana, adanya keresahan kalangan guru SD di wilayah pesisir yang muridnya lebih senang ke laut, untuk apa?Untuk menangkap ikan sekaligus menukarnya dengan uang pada hari itu juga, pertimbangan murid SD ini sangat pragmatis sekolah berjam – jam seharinya dan berlangsung bertahun – tahun tidak menjamin mereka akan mendapatkan uang, sebaliknya cukup seharian saja ‘menceburkan’ diri di laut, ketika ‘mentas’ uang sudah ditangan.

Kembali ke ‘prospektifnya’ penangkapan ikan, kata ‘prospektif’ sengaja saya tulis dalam tanda kutip karena ‘prospektif’ ini berbeda dengan mesin pabrik yang dari bulan ke bulan bisa dikendalikan, prospektifnya penangkapan ikan bersifat musiman, ada musim penangkapan ikan yang lalu diselingi dengan musim paceklik.

Karakteristik seperti ini ditangkap oleh tengkulak yang sifatnya rentenir – sebagian lembaga resmi yang menolongpun ditengarai tergolong sebagai rentenir, meskipun mereka tidak mengakuinya, kalaupun ada yang menyebut biasanya diperhalus dengan rent seeking – sehingga pinjaman dari mereka dibayar ketika musim penangkapan, meskipun besarnya bunga sangat melilit, tapi nelayan masih sanggup membayar karena penghasilan pada musim penangkapan memang melimpah.

Lantas pada kondisi demikian, apakah kredit perbankan memang betul – betul dibutuhkan atau pola pengelolaan keuangan nelayan yang semestinya dicerahkan dengan manajemen yang rapi? Pada dasarnya nelayan mempunyai uang yang mencukupi, tetapi dengan pengelolaan yang buruk uang hanya berguna selama masa penangkapan ikan dengan wujud gaya hidup konsumtif dari sebagian besar nelayan yang memang telah dikenal dalam kajian sosiologi masyarakat pesisir, setelahnya kurang dipikirkan dan cenderung terjadi gejala kemiskinan yang dilanjutkan likuidasi harta benda untuk ditukar dan digadaikan. Pada kondisi ini, sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah perubahan paradigma pengelolaan keuangan, bukan dipacu kredit bagi nelayan, coba bayangkan apabila kredit tersebut ternyata tidak digunakan sebagai modal usaha penangkapan tetapi untuk menutupi kesulitan keuangan pada masa paceklik maka dalam jangka panjang kredit malah menyengsarakan. Sekali lagi kita anggap saja kondisi tersebut tidak terjadi, dan kredit benar – benar digunakan untuk modal penangkapan, Apakah nelayan mampu membayar bulanan? Sangat besar nelayan akan kesulitan membayar angsuran pokok berikut bunganya secara bulanan karena model pengelolaan keuangan mereka masih banyak yang keliru, tidak peduli apakah sumber modal dari pinjaman tengkulak atau kredit bank, nelayan akan menggunakannya untuk modal selama musim penangkapan dan hasilnya juga dinikmati hanya pada masa tersebut.

Dengan demikian, model kredit bulanan ini akan mampu dibayar selama musim penangkapan, tetapi memasuki musim paceklik yang untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari saja sulit, apakah nelayan tidak semakin menderita kalau harus membayar angsuran pokok dan bunga? Memang ada wacana skim bantuan biaya operasional saat paceklik Namun, hal ini masih wacana sedangkan potensi kredit dengan agunan alat tangkap serta tanah sudah menjadi kesepakatan, jadi wacana saja tidak bisa menanggulangi apa yang terjadi. Belum lagi skim bantuan itu belum jelas apakah santunan gratis atau kredit berbunga. Kedua kondisi di atas belum apa – apa dibanding resiko ketiga, yaitu jika nelayan yang masih belum teredukasi dalam mengelola keuangan tersebut gagal membayar hutang bagaimana kelanjutan hidup mereka? Secara umum bank akan menyita agunan, baik berupa perahu, alat tangkap, dan tanah tempat tinggal. Lantas kalau terjadi yang demikian berarti hilanglah kesempatan bekerja bagi nelayan tersebut, mau bekerja pakai apa perahu tidak ada, alat tangkap juga disita. Belum lagi penyitaan agunan tanah, mau tinggal dimana mereka. Oleh karena itu, bagi yang beranggapan model kredit berbunga ini bisa memperbaiki taraf hidup nelayan, sebelum betul – betul digulirkan sudah seharusnya membimbing nelayan dalam mengelola keuangannya. Kalau tidak, ya resiko di atas agar diantisipasi saja. Bagaimana pendapat Anda?

*) Alumni APS Tahun 2003 Tinggal di Bogor

~ oleh alumniaps pada September 14, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: